“Tantangan dan Solusi Hoax” dalam perspektif Akidah Akhlak
Era modernisasi membawa perubahan yang kompleks bagi kehidupan
masyarakat. Salah satunya pada aspek informasi dan komunikasi yang beriringan
dengan mode interaksi dan relasi sosial. Pasca revolusi industri, teknologi
media atau elektronik berkembang dan menjadi salah satu kebutuhan penting.
Tidak hanya sebagai sarana bagi manusia untuk saling berinteraksi melainkan
juga sarana untuk memperoleh informasi dan kebutuhan lainnya. Dengan demikian,
teknologi informasi dan komunikasi atau yang sering disebut dengan information
and communication technology (ICT) telah mengukuhkan diri sebagai piranti yang
lekat pada kehidupan masyarakat era ini. puh yang mungkin bisa mencapai puluhan
jam. Tidak dinafikan pula bahwa teknologi informasi dan komunikasi berkembang
dengan begitu cepat. Bukan hanya piranti PC, koneksi melalui internet juga
dapat diperoleh dengan piranti yang portable dan handy. Ponsel atau handphone
berubah menjadi inovasi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan komunikasi
melainkan juga informasi, yang kemudian disebut dengan smartphone (telepon
pintar) dan tablet (atau sejenisnya).
Sebelum masuk pada pemaparan hoax, penulis merasa perlu membahas
realitas mengenai perkembangan teknologi. Hal itu karena hoax merupakan
implikasi dari masifnya penggunaan teknologi elektronik (terutama teknologi
informasi dan komunikasi). Sadar atau tidak masyarakat berada di antara
kepungan teknologi yang masif. Bahkan masifikasi teknologi telah mengarah pada
bentuk konvergensi teknologi. Realitas yang muncul sebagai efek dari
teknologisasi tersebut merupakan bentuk dari budaya elektronik yaitu suatu
kebudayaan yang ‘diperantarai’, di mana ruang interaksi sosial dan kultural
terpisah dari kawasan geografis dan sosial tertentu. Artinya batas kawasan
geografis dan sosial menjadi kabur atau terabaikan, dan kecepatan merupakan
ciri khasnya.
Sebelum tahun 1990-an, media massa berupa media cetak (surat harian)
disusul dengan media elektronik dan televisi merupakan media populer yang
memberikan informasi publik yang efektif dan masif. Namun, bentuk dari
komunikasi ini belum memungkinkan suatu interaksi langsung dari pemberi
informasi dan penerima, sehingga penerima masih sebagai subyek yang pasif.
Sejak ditemukannya komputer dan medium internet, masyarakat disuguhkan dengan
kebebasan untuk mengakses informasi atau berbincang satu sama lain tanpa
limitasi waktu. Selama medium internet tersedia maka aktivitas berselancar
(surfing) di ruang maya tidak terbatas oleh waktu. Seperti yang dipaparkan
sebelumnya bahwa perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang ditandai
dengan munculnya PC dan koneksi internet telah memunculkan realitas teknologi.
Suatu realitas yang berada di suatu tempat di mana tempat itu tidak diketahui
secara jelas letaknya. Inilah kemudian yang disebut sebagai ruang maya
(cyberspace). Maya karena kita tidak menghadirkan fisik pengguna di ruang itu.
Dengan didorong oleh inovasi yang seakan overlap yaitu poduk portabel PC
seperti laptop, notebook, netbook hingga teknologi mudah digenggam yang bisa
masuk dalam saku baju atau tas (smartphone dan tablet), memungkinkan semakin
melejitnya eksistensi ruang maya.
Cepatnya
transmisi, mudahnya membagi dan mengunggah informasi (audio dan visual) tanpa
identitas yang spesifik (pseudoname atau anonym) memunculkan chaos yang sulit
diprediksi sebelumnya. Hoax atau berita palsu adalah realitas dari kondisi dari
chaos akibat difusi dari ICT. Tujuannya adalah untuk memperoleh keuntungan
dihitung dari banyaknya orang yang mengakses situs dan mem-forward atau link
melalui berbagai media yang lain. Hoax merupakan imbas dari perilaku mekanis
sebagai konsekuensi atas masifnya teknologi dan media sosial. Kemudahan menerima,
berbagi, dan memberi komentar melalui media sosial seperti facebook, twitter,
whatsapps, dan sebagainya memperlihatkan bahwa informasi saling bertumpuk,
berimplosif, dan berekplosif karena direproduksi melalui opsi share dan
salin/copy yang tersedia dalam sistem media sosial. Bahkan setiap orang bisa
mengomentari info yang diterima itu sesuka hati tanpa konfirmasi. Fenomena ini
adalah bentuk dari hyperreality yaitu kenyataan yang berlebihan yang telah
diprediksikan oleh Baudrillard puluhan tahun ketika istilah hoax belum dikenal.
Dalam bingkai akidah akhlak setiap manusia dalam melakukan
aktivitas sehari-hari pasti tidak terlepas dari yang namanya perilaku, entah
perilaku terhadap diri sendiri, sesame teman, orang tua, keluarga atau bahkan
kepada orang lain. Islam selalu mengatur hal hal muamalah manusia, di dalam
bingkai akidah akhlak perilaku manusia
terhadap manusia lain harus diimbangi dan disertai dengan etika yang
baik. Berbicara tentang etika dalam Islam tidak dapat dilepaskan dengan ilmu
akhlaq sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan dalam agama Islam dianggap
sebagai sinonim dari etika. Persamaannya memang ada yaitu ilmu yang membahas
tentang kebaikan agar dilakukan oleh manusia serta membahas hal-hal buruk agar
dijauhi sebagai aplikasi dari larangan yang telah ditentukan dalam agama.
Berbicara tentang etika berkomunikasi di dunia maya, patutlah
kiranya kita memiliki landasan kuat tentang etika komunikasi dalam ajaran Islam
. Etika atau akhlaq dapat mengarahkan prilaku berkomunikasi secara santun,
jujur dan tidak merugikan orang lain. Hal ini dapat menjadi perisai agar
terhindar dari menyebarkan dan memberikan informasi hoax. Di sisi lain dapat
menangkal hoax ketika menerima pesan. Pandangan semacam ini jelas didasari
suatu keyakinan seorang muslim bahwa seluruh prilaku dalam segala perikehidupan
dianggap mengandung unsur-unsur dari sumber ajaran Islam (al-Qur’an, hadits,
ijma’ dan qiyas). Sumber-sumber hukum inilah yang mengarahkan seorang muslim
dalam menilai baik dan buruk dalam berkomunikasi.
Dalam hal ini ketidaksadaran para pengguna internet tentang adanya
etika tertulis maupun tidak tertulis dalam berkomunikasi di dunia maya, dapat
menyeret seseorang dalam masalah dan berbagai penyimpangan berkomunikasi.
Kekurang tahuan serta munculnya pengguna di bawah umur (belum dewasa) merupakan
salah satu penyebab seseorang bebas berprilaku di dunia maya. Dalam kasus-kasus
penggunaan email, chatting, mailing list, upload foto, dapat menyeret para
penggunanya kepada situasi yang tidak sehat. Terbukti Melalui jejaring sosial
tersebut, mereka terkadang saling memaki, menipu, melakukan pelecehan gender,
menghina, membuka rahasia pribadi atau orang lain, menyebarkan berita yang
tidak benar atau hoax dan lain sebagainya.
Agar
terhindar dari komunikasi yang berbasis hoax maka prinsip-prinsip komunikasi
Islam mengatur diantaranya:
1. Prinsip Ikhlas
Prinsip ikhlas merupakan prinsip paling mendasar dalam komunikasi Islam. Suatu pesan tidak akan berdampak positif kepada komunikan jika diterima dengan hati yang tidak ikhlas. Ikhlas adalah kerja hati. Tidak ikhlas menyampaikan atau menerima pesan artinya tidak sucinya menerima atau menyampaikan suatu pesan. Dalam Islam telah ditetapkan bahwa segala perbuatan harus diniatkan untuk lillahi ta’ala. Orientasi hidup seperti ini tertuang dalam firman Allah dalam Surat al-An’am (6):162-163.
2. Prinsip Pahala dan Dosa
Prinsip ini menjelaskan bahwa setiap pesan
yang disampaikan mengandung konsekuensi pahala dan dosa. Lisan atau komunikasi
lewat tulisan memiliki peran kunci dalam berkomunikasi, akan membawa pada
kesuksesan atau kehancuran. Agar lisan tidak menjadi alat pengumpul dosa tetapi
selalu memproduksi pahala, maka Islam membimbing manusia terutama umatnya
sebagai berikut: a)Islam melarang berkata kotor dan kasar. b)Memberikan
motivasi agar selalu berkata yang baik. Rasulullah memberikan motivasi kepada
orang yang berkata baik dengan berbagai cara, yaitu: menyampaikan kabar
gembira kepada orang yang selalu berkata baik dan berpesan jangan sembarangan
mengeluarkan pernyataan. Berkata baik menyebabkan masuk surga dan mendapatkan
tempat yang baik di sana. Berkata baik dikategorikan memberi sedekah. Islam
identik dengan ucapan yang baik.
3. Prinsip Kejujuran
Lisan dapat membunuh karakter seseorang, bahkan
dapat merusak hubungan suami istri, kerabat, kaum bahkan dapat menumpahkan
darah. Gara-gara lisan suatu kaum bisa hancur berantakan. Karena itu
kejujuran dalam menyampaikan pesan adalah prinsip mendasar dalam komunikasi
Islam. Diantara bentuk kejujuran dalam berkomunikasi adalah: 1)Tidak memutar
balikkan fakta. 2) Tidak berdusta.
4. Prinsip Kebersihan
Islam menekankan prinsip kebersihan dalam segala
hal, termasuk dalam menyampaikan pesan. Pesan yang baik akan mendatangkan
kenyamanan psikologis bagi yang menerimanya. Sedangkan pesan-pesan yang
sarkatis, jorok, adu domba, umpatan dan sebagainya akan berdampak pada keruhnya
hati Prinsip Berkata Positif Pesan positif akan berpengaruh bagi kebahagiaan
seseorang dalam kondisi apapun. Seorang komunikator yang sering mengirim pesan positif
kepada komunikan akan menyimpan modal yang banyak untuk berbuat yang positif.
5. Prinsip Paket (hati, lisan, dan perbuatan)
Manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam bentuk satu paket
lengkap yaitu terdiri dari unsur jiwa dan unsur raga. Gerak raga dalam Islam
dipengaruhi oleh hati atau jiwa. Artinya lisan akan berbicara yang baik jika
hatinya baik, dan lisan tidak akan mampu berbicara dengan baik tanpa kendali
dari jiwanya. konsistensi antara hati, kata dan perbuatan merupakan ciri dari
manusia sukses. Allah tidak menyukai inkonsistensi. Bukan hanya Allah saja,
manusia juga memandang inkonsistensi adalah bentuk dari kecacatan atau
kemunafikan yang dimiliki seseorang. Kecacatan ini akan menjatuhkan nilai
seseorang menjadi berkurang.
6. Prinsip Dua Telinga dan Satu Mulut
Prinsip berhati-hati dalam
berbicara dan banyak mendengar adalah manifestasi dari struktur fisik manusia
yang diciptakan Allah dengan dua telinga dan satu mulut. Semua informasi yang
ditangkap dengan dua telinga kemudian difilter oleh akal sebelum dikeluarkan
oleh lisan. Orang-orang yang cerdas dalah orang-orang yang mampu memilah dan
memilih informasi dan hanya mengambilnya yang terbaik dari informasi yang
diterima.
7. Prinsip Pengawasan
Prinsip pengawasan muncul dari kepercayaan
mukmin terhadap Allah Maha Mendengar, Melihat, Mengetahui. Selain itu apapun
yang diucapkan dan diperbuat manusia akan dicatat oleh malaikat. Sehingga
manusia prinsip ini akan mendorong manusia memiliki keyakinan bahwa setiap
mukmin akan selalu dipantau. Orang yang merasa dipantau akan berhati-hati dalam
mengeluarkan statemen.
Komentar
Posting Komentar