“Internalisasi Nilai-Nilai Berbasis Sosial dan Budaya dalam Mapel PAI”

            Pada mulanya kurikulum yang hanya menjadi sebuah kata yang menunjukkan jumlah mata pelajaran yang harus di tempuh untuk mencapai suatu gelar atau ijazah kini harusnya telah tergerus oleh kemajuan zaman dan teknologi.Tantangan baru untuk para pendidik di era Millenial kini adalah dari segi mendidik moral peserta didik. Adanya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah menjadi solusi, namun tidak cukup dari segi kognitif agama saja.

Kini kurikulum berubah menjadi hal yang bisa membentuk karakter siswa tergantung pada pengolahan kurikulumnya. Asequence of potencial experiences it set up in the school for the porpuse of disciplining children and youth in groups way thinking and acting. Dalam definisi ini jelas tampak penekanan Smith pada aspek sosial yakni mendidik anak menjadi anggota masyarakat.[1]Pendidikan Agama Islam kehadirannya memiliki peran penting, namun tidak cukup ranah kognitif saja, kini yang terpenting adalah output mereka ketika berada di luar sekolah , apakah mereka benar-benar bisa mempraktekkan pengetahuan agama mereka. Sosial dan budaya tidak bisa terlepas di kehidupan sehari-hari, anak zaman sekarang budayanya sudah mulai meniru kebarat-baratan , sebagai contoh mereka malah merasa sungkan/enggan melaksanakan ritual keagamaan di lingkungan mereka. Internalisasi nilai-nilai kegamaan melalui pengembangan kurikulum yang  berbasis sosial dan budaya perlu dilakukan untuk menghasilkan output peserta didik yang bisa mengintegrasikan antara pengetahuan dan perilaku. Contoh kecil setelah pembelajaran do’a dan dzikir dalam mata pelajaran PAI harusnya guru bisa memberi saran dan menyuruh mengikuti kegiatan dzikir di Sekolah atau tahlil yang ada di lingkungan rumah mereka.

Pengintegrasian antara pengetahuan dengan perilaku nilai-nilai agama itu adalah yang terpenting, percuma saja anak memiliki pengetahuan yang luas terhadap agama namun pada praktekknya dalam hubungan dengan sosial ia tidak bisa menggunakan ilmunya atau belum terbiasa melakukannya, hal inilah yang menjadi tantangan dalam membuat pengembangan kurikulum yang lebih didasarkan dan ditujukan pada output sang anak dalam ranah sosial dan budaya.



[1] Dikutip dari Burhan Nurgiantoro, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum  Sekolah: Sebuah Pengantar Teoretis dan Pelaksanaan, (Yogyakarta: BPEE, 1988), hlm. 4

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Covid -19 : Pros and Cons Using Medical Mask and Hand sanitizer

Why Students Must Recite Quran (Tashih) in Mahad UIN Maliki Malang